Pagi itu, langit di atas kawasan tempat lembaga pendidikan Al-Qur’an Al Izzah masih tampak berwarna kebiruan lembut, dengan sisa embun yang masih menempel di daun-daun pepohonan di sepanjang jalan masuk. Udara yang sejuk menusuk sedikit kulit, namun tidak sebanding dengan degup jantung yang berpacu lebih kencang dari biasanya. Saya berdiri di depan pintu ruang ujian, merapikan pakaian yang saya kenakan, dan berusaha menenangkan diri dengan mengucap zikir berulang kali.
Hari ini adalah hari yang sudah saya nantikan sekaligus saya persiapkan dengan sungguh-sungguh selama berbulan-bulan, bahkan sampai 1 tahun menimba ilmu bersama ustadz Nasrullah : hari pelaksanaan Munaqosah Juz 30. Dan yang membuat momen ini terasa jauh lebih istimewa dan berkesan, ujian kali ini akan disaksikan dan dinilai langsung oleh penguji resmi yang datang dari tim Tilawati.
![]() |
| Bareng Ustadz Nasrullah Spd. (peci putih) |
Sebenarnya ujian ini udah lama banget dan saya baru mempostingnya sekarang di blog ini, sebagai kenangan dan penyemangat kalian para pembaca blog ini yang sedang berjuang menghafalkan Al Qur'an ditengah kesibukan rutinitas sehari-hari.
Bagi siapa pun yang menekuni belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an, nama Tilawati tentu bukanlah hal yang asing. Lembaga ini dikenal memiliki standar penilaian yang sangat ketat, berpedoman murni pada kaidah tajwid yang shahih serta riwayat bacaan yang terpercaya, sehingga dinilai sebagai tolok ukur yang paling dapat diandalkan untuk mengetahui sejauh mana kualitas bacaan dan pemahaman kita terhadap Kitabullah.
Ketika pengumuman disampaikan bahwa tim penguji akan datang langsung ke Al Izzah untuk memimpin jalannya munaqosah, perasaan saya itu bercampur aduk.
Ada rasa gugup yang tak bisa disembunyikan, namun jauh lebih besar adalah rasa syukur dan semangat yang membara. Bagi saya, ini bukan sekadar ujian untuk mendapatkan sertifikat atau tanda lulus hafalan. Ini adalah kesempatan langka untuk mendapatkan penilaian dari para ahli yang memegang standar tinggi, sehingga saya bisa mengetahui dengan jujur di mana letak kekurangan bacaan saya, apa yang sudah saya perbaiki dengan benar, dan mana yang masih perlu aku asah lebih dalam lagi.
Perjalanan Panjang Persiapan yang Tak Sekadar Hafalan
Mengingat kembali perjalanan persiapan yang saya jalani, rasanya seperti baru kemarin saya mulai memantapkan langkah ini. Seinget saya dulu di sore hari, biasanya saya motoran sore-sore bareng anak istri untuk cari jajanan di daerah komplek perumahan Legok Permai, saya membaca dari kejauhan kalau ada sekolah Tahfidz Al Quran.Semangat banget saya yang sebelumnya saya emang niat kepengen ngafalin Al Quran, namun gak mau sendirian kepengen ada gurunya. Langsung deh saya catet nomer WA nya yang tertera di spanduknya.
Saya simpan nomer WA pak Nugi, masih teringat saya menanyakan bahwa saya berniat ingin ikutan tahfidz Al Qur'an disana. Beliau belum kasih kabar, gak lama setelah itu beliau kasih kabar, nanti akan dibentuk khusus tahfidz yang bapak-bapak ikutan aja.
Dikarenakan Pak Nugi sedang melaksanakan umroh, jadi masih tertunda. Maybe itu lumayan lama saya menunggu kabar sambil beraktivitas kerja dan lainnya. Akhirnya dapet kabar kalau saya bisa ikutan, karena emang nunggu kumpul bapak-bapaknya sekitar 7 orang apa 10 orang dulu.
Di pimpin oleh Ustadz Nasrullah Spd, dan kita setiap seminggu sekali setoran hafalan dan pembacaan buku kitab tilawati untuk memperbaiki Makhroj huruf yang masih kurang pas bahkan gak sesuai dengan standarnya. Kita dilatih dengan penuh kesabaran oleh Ustadz Nasrullah (terima kasih ustadz, ilmu dari beliau gak lekang oleh waktu selalu saya ingat).
Mulai dari Annaba semampunya, mau setengah surat, mau seperempat surat, bebas saja. Asalkan mau berusaha. Kemudian berlanjut ke Annaziat, Abasa, Attakwir, Al Infithar, Al Muthafifin, Al Insyiqaq, Al Buruj (surat favorit saya), At Thariq, Al A'la, Al Ghasyiyah, Al Fajr, Al Balad, Asy Syams, Al Lail, Adh Dhuha, Al Insyirah, At Tin, Al Qadar, Al Bayyinah, Al Zalzalah, Al 'Adiyat, Al Qari'ah, At Takatsur, Al Ashr, Al Humazah, Al Fill, Al Quraisy, Al Ma'un, Al Kautsar, Al Kafirun, An Nashr, Al Lahab, Al Ikhlas, AL Falaq dan kemudian An Nas.
Semuanya gak berlangsung dalam satu malam, satu hari. Namun berproses dengan perjalanan panjang banget, kadang semangat dan kadang letih juga kadang merasa bosan. Hafalan surat pendek harus dirubah karena Makhroj gak sesuai, perbaikinya sulit banget karena udah bawaan dari kecil hafalannya.
Kadang ramean kumpul bapak-bapaknya, kadang pula ber empat saja. Di coba pula dengan adanya Covid 19, sampe harus setoran via Zoom. Pokoknya seru dan kalau di inget terharu...
Jauh sebelum hari munaqosah tiba, setiap waktu luang yang saya miliki—setelah menyelesaikan tugas rumah, setelah menemani anak-anak bermain, hingga waktu senggang di sela-sela kesibukan pekerjaan—selalu saya serahkan untuk berhadapan dengan mushaf Al-Qur’an.
Awalnya saya mengira Munaqosah Juz 30 hanya perlu menghafal lafadz demi lafadz agar tidak ada yang tertukar atau terlewat. Namun bimbingan dari Ustadz Nasrullah di Al Izzah membuka mata saya bahwa: menghafal adalah awal, namun membacanya dengan benar, sesuai tempat keluarnya huruf, sifat huruf yang tepat, serta kaidah tajwid yang sempurna adalah kewajiban yang jauh lebih utama.
Selama berbulan-bulan itu, saya belajar kembali makhraj setiap huruf dengan teliti. Berlatih membedakan antara huruf yang mirip bunyinya, seperti ‘shad’ dan ‘sin’, ‘tha’ dan ‘sha’, serta memastikan huruf ‘ain dan ‘ha’ terucap dengan jelas tanpa saling menutupi.
Saya juga berlatih panjang pendek mad dengan sangat hati-hati, berusaha agar tidak ada yang terpotong terlalu pendek atau ditarik berlebihan, sesuai dengan aturan yang berlaku.
Tak jarang saya harus mengulang satu ayat yang sama puluhan kali, bahkan sampai berkali-kali dalam sehari, sampai guru pembimbingku berkata “sudah benar, lanjutkan ke bagian berikutnya”.
Ada kalanya saya merasa lelah, ada saatnya saya merasa putus asa ketika satu kesalahan yang sama terus berulang. Namun saat itulah saya teringat tujuan awalku: ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana seharusnya dibaca, ingin memberikan teladan yang baik bagi anak-anakku, dan ingin menghadirkan Al-Qur’an sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan keluarga kami.
Dukungan dari keluarga juga menjadi kekuatan terbesarku terutama istri saya memaklumi waktu yang saya sediakan untuk belajar, bahkan terkadang ikut mendengarkan saat saya berlatih membaca di rumah.
Mengetahui bahwa penguji dari tim Tilawati akan hadir ketika ujian tiba, saya menambah jam latihan saya, diberi masukan dari guru lebih sering, dan berusaha membaca dengan berbagai macam irama agar siap menghadapi apa pun yang diminta saat ujian nanti.
Saatnya Melangkah ke Ruang Munaqosah
Setelah mendaftar dan menunggu sebentar bersama teman-teman peserta lain yang juga tampak sama antusias dan gugupnya, akhirnya nama saya dipanggil maju. Dan memang saya mendapatkan giliran pertama kali makin deg-degan.
Saya melangkahkan kaki masuk ke ruangan dengan hati yang bergetar, namun berusaha tetap tenang.
Di tengah ruangan, di hadapan meja yang sudah disiapkan, duduk satu orang penguji dari tim Tilawati beserta pimpinan lembaga Al Izzah. Juga disaksikan oleh Ustadz Nasrullah sebagai guru.
Wajah mereka tampak tenang dan ramah, namun sorot matanya menunjukkan ketelitian yang tak bisa diremehkan. Saya menyapa mereka dengan salam, lalu duduk di kursi yang telah disediakan.
Salah satu penguji kemudian membuka sambutan singkat, mengingatkan bahwa munaqosah ini adalah sarana untuk memperbaiki diri, bukan untuk mempermalukan siapa pun, dan meminta kami untuk membaca dengan niat karena Allah SWT semata. Mendengar itu, rasa gugupku perlahan berkurang, berganti dengan ketenangan yang datangnya dari keyakinan bahwa semua yang kulakukan adalah bentuk ibadah.
Saya pun memulai bacaan dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim. Ayat pertama yang ditunjuk adalah bagian dari Surat An-Naba’. Saya berusaha mengatur napas, memastikan setiap huruf keluar dari tempatnya yang tepat, mempertahankan sifat huruf seperti tebal, tipis, kuat, atau lemah sesuai aturan, dan menjaga panjang pendeknya.
Sepanjang saya membaca, kesunyian menyelimuti ruangan hanya terdengar suara saya yang memecah keheningan, diselingi sesekali suara catatan yang ditulis oleh para penguji.
Selama proses berlangsung, saya menyadari betapa berharganya bimbingan dari orang yang ahli.
Banyak hal kecil yang selama ini tidak kusadari salahnya, seperti terlalu cepat mengubah posisi mulut saat bertemu huruf bertemu, atau sedikit melesetnya makhraj huruf yang sangat tipis yang ternyata bisa terlihat jelas oleh penguji yang sudah lama berkecimpung di dunia tilawah.
Hal ini bukan membuat saya merasa minder, melainkan justru membuka mata saya bahwa belajar Al-Qur’an adalah perjalanan yang tak akan pernah ada habisnya, dan kita tidak boleh merasa sudah paling benar sebelum bertanya dan meminta penilaian dari yang lebih tahu.
Rangkaian munaqosah berlangsung selama hampir satu jam penuh. Ketika tiba saatnya saya selesai dan mengucap salam penutup, rasanya ada beban yang terangkat dari pundakku, namun hati terasa penuh dengan kepuasan dan rasa syukur.
Penilaian, Harapan, dan Pelajaran Berharga
Setelah semua peserta selesai, penguji dari tim Tilawati menyampaikan kesimpulan secara umum dan khusus untuk masing-masing peserta nantinya. Kepada saya, beliau menyampaikan apresiasi karena persiapan yang matang, keberanian membaca dengan suara jelas, serta usaha yang sungguh-sungguh dalam menjaga tajwid.
Beliau juga menyampaikan poin-poin yang masih perlu saya perbaiki, antara lain konsistensi dalam membaca huruf yang berharakat sukun bertemu dengan huruf tertentu, serta menjaga kejernihan suara saat membaca ayat yang panjang.
Momen hari itu menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan seumur hidup. Bukan karena saya lulus atau mendapatkan nilai yang baik, melainkan karena saya mendapatkan kesempatan berharga untuk berhadapan dengan standar yang benar, mendapatkan bimbingan langsung dari ahlinya, dan menyadari betapa besarnya nikmat yang Allah berikan kepada saya.Dengan dipertemukannya dengan lembaga yang baik seperti Al Izzah, memiliki guru yang sabar membimbing, serta keluarga yang selalu mendukung setiap langkahku mendekatkan diri kepada-Nya.
Kini setelah munaqosah Juz 30 selesai, semangat saya justru semakin berkobar untuk melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu Juz 29. Saya ingin memantapkan hafalan dan bacaan ini, lalu menyelesaikan munaqosah seluruh Juz demi Juz hingga selesai satu Al-Qur’an penuh.
Lebih dari itu, saya ingin menjadi orang yang tidak hanya pandai membaca, tapi juga mengamalkan isi kandungannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu baik dalam sikap kepada istri, kepada anak-anak, kepada orang tua, maupun kepada sesama manusia.
Saya juga berharap, kisah singkat ini bisa menjadi penyemangat bagi siapa saja yang sedang berjuang menempuh jalan yang sama. Jangan pernah takut salah, jangan pernah malu bertanya, dan jangan pernah merasa lelah untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an.
Setiap usaha kecil yang kita lakukan demi menyempurnakan satu huruf dari Kitabullah, insya Allah akan dicatat sebagai amal yang paling mulia di sisi Allah SWT. Dan jika ada kesempatan untuk diuji atau dibimbing oleh lembaga yang memiliki standar terpercaya seperti Tilawati, ambillah dengan kedua tangan, karena itu adalah jalan tercepat untuk memastikan bacaan kita benar dan diridhoi oleh-Nya.
Terima kasih kepada seluruh guru dan pengurus Al Izzah yang tak pernah lelah membimbing kami. Terima kasih kepada tim penguji Tilawati yang telah datang jauh-jauh dan memberikan penilaian serta arahan yang sangat berharga. Dan terima kasih kepada keluarga saya yang menjadi alasan terbesarku berjuang. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita untuk tetap cinta pada Al-Qur’an, menjadikannya cahaya penuntun di dunia dan akhirat kelak.






Social Media