Di tengah gemuruh pembangunan kawasan modern BSD City, Gading Serpong, dan deretan gedung perkantoran serta perumahan mewah yang menjulang di Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, tersimpan sebuah tempat tenang yang menyimpan sejarah panjang peradaban Islam di tanah Banten.
Terletak di Kampung Cigaten, Desa Cihuni, kompleks makam Syekh Sangajati berdiri kokoh sebagai saksi bisu perjuangan para ulama terdahulu dalam menyebarkan cahaya agama Islam di wilayah pedalaman Tangerang ratusan tahun silam.
Tempat ini bukan sekadar situs pemakaman kuno, melainkan destinasi wisata religi yang menyatukan nilai sejarah, keagamaan, dan keberkahan bagi siapa saja yang datang berkunjung dengan niat tulus.
Sosok Asli dan Asal-Usul Syekh Sangajati
Nama besar Syekh Sangajati tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Tangerang, khususnya warga Pagedangan dan sekitarnya.
Namun tidak banyak yang mengetahui identitas asli serta perjalanan hidup beliau yang penuh pengorbanan.
Nama asli beliau adalah Sayyid Maulana Syarif Muhammad Hidayatullah, seorang ulama besar keturunan Arab yang lahir di Kairo, Mesir, pada tahun 1448 Masehi. Beliau berasal dari keluarga yang taat beragama dan memiliki latar belakang pendidikan agama yang sangat kuat sejak kecil.
Di usia muda, beliau sudah menempuh pendidikan agama mendalam di berbagai pusat ilmu pengetahuan di Timur Tengah. Atas perintah dan restu ayahnya, beliau kemudian memulai perjalanan panjang menuju Nusantara dengan misi mulia menyebarkan ajaran Islam.
Perjalanan laut yang penuh bahaya dan rintangan tidak menyurutkan tekad beliau. Dalam perjalanan ke Nusantara, Syekh Sangajati sempat singgah di Gujarat, India, untuk berbagi ilmu dengan ulama setempat, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kesultanan Samudera Pasai di Aceh—pusat penyebaran Islam pertama di Indonesia—sebelum akhirnya mendarat dengan selamat di wilayah Banten.
Setibanya di Banten, beliau tidak langsung menetap. Beliau melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur untuk berguru kepada salah satu Wali Songo yang sangat dihormati, yaitu Sunan Ampel di Surabaya.
Di bawah bimbingan Sunan Ampel, Syekh Sangajati mendalami berbagai cabang ilmu agama Islam, mulai dari tafsir Al-Qur'an, hadis, fikih, hingga ilmu tasawuf dan cara berdakwah yang lembut namun tegas.
Kesalehan, kecerdasan, serta kerendahan hati yang dimiliki beliau membuat Sunan Ampel sangat menghargainya dan mengakui beliau sebagai murid yang berdedikasi tinggi.
Setelah menyelesaikan masa pengguruannya, Syekh Sangajati kembali ke wilayah Banten bersama dua sahabat seperjuangan, yaitu Pangeran Cakrabuana dan Sayyid Maulana Abdurrahman. Mereka berkelana menyusuri aliran Sungai Cisadane hingga tiba di sebuah wilayah yang pada masa itu masih berupa hutan lebat dan pemukiman penduduk yang sederhana, yang saat ini dikenal sebagai wilayah Pagedangan.
Asal-Usul Nama "Sangajati"
Sesuai dengan nasihat dan petunjuk yang diterima dari gurunya, Sunan Ampel, Syekh Sangajati kemudian menanam tepat sembilan batang pohon jati di lokasi tempat beliau memulai dakwahnya. Penanaman pohon ini bukan sekadar kegiatan biasa, melainkan memiliki makna simbolis yang dalam, agar ajaran Islam yang beliau sebarkan dapat tumbuh kuat, berakar kokoh di hati masyarakat, dan bermanfaat bagi banyak orang layaknya pohon jati yang kuat, kokoh, dan kayunya digunakan untuk kebaikan.
Dari peristiwa penanaman sembilan pohon jati inilah kemudian lahir nama Sangajati, yang secara harfiah berarti "Sembilan Pohon Jati".
Nama ini kemudian melekat erat pada sosok beliau hingga akhir hayat, dan terus dikenang oleh generasi penerus hingga saat ini.
Di lokasi penanaman pertama itulah beliau kemudian menetap, membangun tempat tinggal sederhana, dan mulai mengajak penduduk setempat untuk mengenal dan memeluk agama Islam.
Syekh Sangajati dikenal sebagai penyebar Islam pertama di wilayah Pagedangan dan sekitarnya. Beliau tidak hanya mengajarkan ibadah dan aturan agama, tetapi juga mengajarkan cara bercocok tanam, menjaga kebersihan lingkungan, serta nilai-nilai kehidupan bermasyarakat yang saling menghargai dan saling membantu.
Cara dakwah beliau yang lembut, tidak memaksa, dan mampu berbaur dengan budaya masyarakat setempat membuat ajaran Islam diterima dengan baik dan berkembang pesat di wilayah tersebut.
Lokasi, Kondisi, dan Keunikan Kompleks Makam
Kompleks makam Syekh Sangajati terletak di Kampung Cigaten, Desa Cihuni, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, dengan kode pos 15332. Lokasinya tidak jauh dari Jalan BSD Raya Utama, sehingga sangat mudah dijangkau baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.
Meskipun dikelilingi oleh kawasan perumahan modern, pusat perbelanjaan, dan jalan raya yang ramai, begitu memasuki area kompleks makam, suasana langsung berubah menjadi sangat tenang, teduh, dan damai.
Di dalam kompleks makam, makam Syekh Sangajati berdiri berdampingan dengan makam istri beliau tercinta, Nyai Dewi Komalasari. Kedua makam ini dilindungi oleh bangunan sederhana namun terawat dengan baik, dikelilingi oleh tembok pembatas dan dihiasi kaligrafi Arab yang menambah kesan sakral.
Selain makam pasangan ulama besar ini, di dalam satu kawasan yang sama terdapat beberapa situs bersejarah lain yang tak kalah menarik, antara lain:
Petilasan Panglima Kumbang
Konon tempat ini merupakan tempat berkumpulnya para Wali Songo dan tokoh ulama lainnya saat berkunjung ke wilayah Banten untuk berdiskusi mengenai perkembangan dakwah Islam. Tempat ini masih dijaga kesakralannya oleh warga sekitar.
Sumur Tua "Air Kejayaan Panglima Kumbang"
Sebuah sumur tua yang usianya sudah ratusan tahun. Air di dalamnya tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang, dan dipercaya oleh masyarakat setempat memiliki keberkahan serta khasiat untuk menjaga kesehatan dan melancarkan rezeki.
Pohon Berusia Ratusan Tahun
Di sekitar kompleks makam tumbuh pohon-pohon besar yang sudah berumur sangat tua, salah satunya memiliki bentuk batang yang meliuk-liuk unik. Pohon-pohon ini menjadi pelindung alami yang membuat suasana makam semakin sejuk dan menyejukkan hati.
Saat ini, fasilitas di kompleks makam juga sudah cukup lengkap dan terawat. Terdapat mushola yang bersih, tempat wudhu yang memadai, serta area parkir yang cukup luas bagi pengunjung.
Kompleks ini juga dikelola oleh pengurus yang bertugas menjaga kebersihan, memberikan informasi sejarah, serta menjaga ketertiban selama kunjungan berlangsung.
Nilai Sejarah dan Makna Bagi Masyarakat Sekarang
Mengunjungi Makam Syekh Sangajati bukan sekadar kegiatan wisata atau berziarah semata, melainkan sebuah perjalanan menyusuri sejarah perjuangan umat Islam di Banten. Beliau datang ke wilayah yang masih asing, penuh tantangan alam maupun budaya, namun dengan kesabaran dan ketulusan hati mampu menyatukan masyarakat dalam satu ikatan iman.
Bagi masyarakat Tangerang, keberadaan makam ini menjadi pengingat bahwa kemajuan peradaban dan pembangunan yang kita nikmati saat ini tidak terlepas dari jasa para pendahulu yang telah membangun pondasi kebaikan dan ketertiban. Di tengah arus modernisasi yang kadang membuat kita lupa diri, tempat ini menjadi tempat yang tepat untuk menenangkan hati, berzikir, berdoa, dan merenungkan kembali perjalanan hidup kita.
Selain itu, Makam Syekh Sangajati juga menjadi bukti nyata toleransi dan persatuan. Berbagai kalangan masyarakat, baik yang beragama Islam maupun yang lain, sering datang ke sini untuk menghormati sejarah dan menjaga kerukunan antarwarga. Hal ini sejalan dengan ajaran Syekh Sangajati yang selalu mengedepankan perdamaian dan kasih sayang kepada sesama makhluk.
Panduan Berkunjung ke Makam Syekh Sangajati
Bagi Anda yang berniat berkunjung ke Makam Syekh Sangajati di Cihuni, Pagedangan, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Waktu Kunjungan: Kompleks makam umumnya terbuka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Sebaiknya hindari berkunjung saat waktu shalat wajib agar tidak mengganggu ibadah pengurus maupun pengunjung lain.
2. Berpakaian Sopan: Kenakan pakaian yang sopan dan tertutup sesuai dengan adat istiadat tempat ziarah.
3. Menjaga Etika: Selama berada di area makam, bicaralah dengan suara pelan, jangan berbuat gaduh, dan buanglah sampah pada tempatnya.
4. Niat Tulus: Datanglah dengan niat untuk berdoa, mengambil pelajaran sejarah, dan mendoakan kebaikan bagi Syekh Sangajati serta seluruh umat Islam yang telah mendahului kita.
Demikianlah kisah lengkap mengenai Makam Syekh Sangajati, sebuah warisan sejarah yang tak ternilai harganya di tengah pesatnya perkembangan Tangerang Selatan. Semoga jejak perjuangan beliau dapat menjadi teladan bagi kita semua untuk terus berbuat kebaikan, menjaga persatuan, dan tetap teguh memegang nilai agama di tengah kemajuan zaman.
🚀 Yuk Bekerja Sama Bareng ekagoblog.com
Bantu Penulis biar makin Semangat Nulisnya:
Kamu bisa langsung transfer ke rekening BSI: 7237117300




Social Media