Dalam bidang industri manufaktur, posisi Quality Control (QC) bukan hanya mencek barang jadi, namun menjaga pula integritas seluruh proses sejak awal. Salah satu titik vital yang sering menentukan keberhasilan sebuah produk adalah tahap validasi material. Nah di artikel Pentingnya Validasi Material dalam Menjaga Standar Kualitas Produksi kita akan sama-sama bahas lebih lanjut.
Mengapa Validasi Material Begitu Penting?
Material adalah pondasi.
Jika bahan baku yang masuk ke area produksi tidak memenuhi spesifikasi teknis (standard yang berlaku), maka secanggih apa pun mesin yang kita pakai, hasil akhirnya tetap akan berisiko cacat (reject).
Berikut adalah 3 alasan utama mengapa validasi material tidak boleh dilewatkan:
Mencegah Kerugian Biaya Produksi
Dengan mendeteksi ketidaksesuaian bahan sejak dini, perusahaan bisa menghindari pemborosan biaya operasional akibat proses rework. Ketidaksusaian ini pula akan memastikan bahwa sistem Quality Control berkembang semakin hari semakin meningkat.
Karena dengan adanya ketidaksesuaian membuat SOP semakin ditingkatkan seperti Work Intruction yang semakin ketat yang harus dipatuhi oleh Sang Quality Controller.
Menjamin Keamanan Produk
Terutama untuk industri alat kesehatan atau otomotif, kualitas material adalah harga mati demi keamanan pengguna akhir.
Efisiensi Waktu
Proses validasi yang ketat membantu alur produksi tetap lancar tanpa hambatan teknis yang disebabkan oleh bahan baku yang buruk.
Langkah Praktis dalam QC Material
Seorang praktisi QC yang andal biasanya akan fokus pada pemeriksaan sertifikat analisis (Certificate of Analysis), pengujian sampel fisik, hingga verifikasi dimensi. Dokumentasi yang rapi dan akurat pada tahap ini adalah kunci utama dalam menghadapi audit mutu.
Certificate of Analysis
Apa itu Certificate of Analysis Mas E?
Certificate of Analysis (CoA) adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh bagian Quality Control (QC) atau Quality Assurance (QA) sebuah perusahaan.
Dokumen ini mengonfirmasi bahwa suatu produk telah melalui serangkaian pengujian dan hasilnya memenuhi spesifikasi atau standar kualitas yang telah ditetapkan.
Sederhananya, CoA itu seperti rapor untuk sebuah produk.
Rapor tersebut menunjukkan "nilai" (hasil tes) dari berbagai "mata pelajaran" (parameter uji) dan menyatakan apakah produk tersebut "lulus" atau tidak.
Sebelum mendapatkannya pula harus di cek kesesuaiannya antara hasil tes QC dengan COA yang ada, jika sama maka barang tersebut layak untuk dipakai. Jika tidak sama, maka barang tersebut akan di NOT OKE yang akan dikembalikan ke Suplier atau biasanya di tukar guling dengan barang baru yang layak (itu pun ketika datang di uji kelayakannya juga).
Informasi Penting yang Ada di dalam CoA
Sebuah CoA biasanya berisi informasi detail berikut:
Identitas Produk
Nama produk, dan yang terpenting, nomor batch atau lot. Nomor ini sangat krusial untuk ketertelusuran (traceability), artinya setiap batch produk memiliki CoA-nya sendiri.
Nama Produsen/Pemasok/Supplier
Siapa yang memproduksi atau menguji produk tersebut.
Spesifikasi/Parameter Uji
Daftar semua karakteristik yang diuji. Contohnya:
Untuk bahan kimia: Tingkat kemurnian (misalnya, Niacinamide 99%, Silica 95%), pH, kadar air.
Untuk makanan/minuman: Kadar nutrisi, total kalori, ada/tidaknya pemanis buatan.
Untuk kosmetik: Uji bebas merkuri, pH, viskositas (kekentalan).
Umum: Uji cemaran mikroba (bakteri, jamur) dan logam berat.
Batas Spesifikasi (Limits/Acceptance Criteria)
Rentang nilai yang dapat diterima untuk setiap parameter. Contoh: "Kadar pH harus antara 5.5 - 6.5".
Hasil Uji (Results): Angka atau hasil aktual dari pengujian pada batch produk tersebut. Contoh: "Hasil uji pH: 5.8".
Metode Uji
Metode standar yang digunakan untuk pengujian (misalnya, HPLC, GC-MS, Titrasi) untuk menunjukkan bahwa pengujian dilakukan dengan cara yang valid.
Tanggal Pengujian & Tanggal Kedaluwarsa.
Tanda Tangan Resmi: Tanda tangan dari penanggung jawab QC/QA yang mengesahkan dokumen tersebut.
Mengapa CoA Sangat Penting?
CoA memiliki peran vital, terutama dalam industri farmasi, makanan & minuman, kosmetik, dan kimia.
Verifikasi Kualitas
Bagi pembeli (terutama bisnis-ke-bisnis), CoA adalah bukti bahwa bahan baku yang mereka beli sesuai dengan standar yang mereka butuhkan.
Keamanan Konsumen
Memastikan produk yang akan digunakan oleh konsumen akhir (seperti obat atau kosmetik) aman dan bebas dari kontaminan berbahaya.
Kepatuhan Regulasi
Dokumen ini wajib ada saat proses audit oleh lembaga pemerintah seperti BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) untuk membuktikan bahwa produk dibuat sesuai standar.
Membangun Kepercayaan: Menjadi bukti transparansi dan komitmen produsen terhadap kualitas, sehingga membangun kepercayaan dengan pelanggan dan mitra bisnis.
Contoh Sederhana Menggunakan COA dalam prakteknya
Sebuah pabrik manufaktur ingin membeli bahan aktif Silica dari sebuah pemasok atau supplier.
Pabrik manufaktur tersebut wajib meminta CoA untuk setiap batch Silica yang mereka beli di Supplier.
Dari CoA itu, mereka akan memeriksa:
Apakah kemurniannya benar di atas 99%?
Apakah bebas dari logam berat seperti merkuri dan timbal?
Apakah pH-nya sesuai untuk formulasi produk mereka?
Jika semua hasil di CoA sesuai spesifikasi, barulah pabrik manufaktur tersebut akan menggunakan bahan itu untuk produksi. Jika tidak, mereka akan menolak bahan baku tersebut.
Jadi, Certificate of Analysis adalah dokumen fundamental yang menjadi jaminan mutu, keamanan, dan transparansi dalam rantai pasok industri.
Pengujian Sampel Fisik
Setelah kita tahu mengenai COA selanjutnya untuk menjaga Standar Kualitas Produksi yaitu menguji sampel fisik tersebut di laboratorium.
Kalau saya pribadi ketika mengerjakan hal ini ada beberapa hal standarisasi mengenai pengujian sample fisik ini yaitu:
Kadar air
Kadar air berfungsi agar melihat air didalam material yang terkandung. Jika material terdapat banyak airnya menyebabkan penimbangan tinggi yang berisikan air bukan material asli.
Maka itu diperlukan pengetesan ini dan dilakukan standarisasi setiap material. Karena setiap material memiliki standar air masing-masing.
Penampakan mentah
Diawal pengetesan kita diharuskan untuk melihat penampakan mentahnya sebelum dibakar di Kiln (pembakaran). Dan dicatat di laporan bahwa warnanya gimana apakah krem, putih, biru, hijau, dan lainnya
Penampakan Setelah Bakar
Wajib sekali melihat penampakan setelah bakar, kita akan melihat adakah berbeda dengan standar atau adakah bintik hitam nya yg banyak mengotori proses produksi nantinya.
Susut Bahan
Whiteness Dengan Alat Whiteness
Whiteness itu bukan untuk melihat keputihan nya aja ya, melainkan untuk melihat nilai warna dari sebuah material yang datang.
Apakah berwarna putih, putih agak krem, putih kebiruan, krem, hijau dan lainnya.
Nilainya berbeda-beda biasanya ada kode L, a dan b.
Bintik Hitam
Bintik hitam yaitu sebuah titik-titik dalam material ketika disaring oleh kawat saringan (mesh) dan juga oleh magnet 🧲 yang akan nempel disana yang kemudian di bakar menjadikan titik-titik hitam.
Berikut hasil bakarnya
Jika material tersebut berkarakter Kaolin/Clay maka akan ada tambahan yaitu
Mengetes Dimensi bahan
Dimensi itu susut dari material bukan susut berat ya. Susut ini perlu agar nanti masuk ke produk jadi membuat susut yang sesuai keinginan produksi.
Mengetes Kekuatan Bahan yaitu Green Strenght
Untuk pengetesan ini telah saya buat artikelnya disini Mengenal Bending Strength: Definisi, Rumus Lengkap, dan Contohnya (Terbaru 2026)
Menguji Deformasi yaitu kelengkungan suatu bahan
Nilai deformasi ini berguna untuk penambahan berapa % untuk komposisi didalam sebuah produk. Ini saya berbicara mengenai industrial keramik yah.
Jika terlalu lengkung bahannya maka di kurangi bahan tersebut atau di hilangkan tergantung kebutuhan nya.
Residu Bahan
Mengetahui residu (ampas) dalam bahan akan jadi fokus dalam penggilingan bahan di produksi nantinya.
Jika Residu bahan tinggi maka menyebabkan penggilingan lebih lama dan memakan biaya produksi tambahan.
Dengan itu maka kita akan tahu bahwa produksi bisa hemat atau bisa mahal jika ada bahan tersebut dimasukan ke dalam komposisi.
Komposisi Bahan Lengkap
Jika dalam pengetesan terdapat kualitas bahan baku yang datang gak sesuai, maka langka selanjutnya yaitu dengan melakukan pengetesan Komposisi Bahan Secara Lengkap.
Dengan melakukan pengetesan komposisi lengkap tersebut dan juga membandingkan nya dengan komposisi produksi maka itu akan menjadi landasan bahwa barang tersebut oke atau tidak layak dipakai produksi.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan catatan pribadi dan murni bersifat edukasi mengenai standar teknis dalam industri manufaktur secara umum. Seluruh isi konten, pendapat, dan analisis dalam artikel ini adalah milik pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan, kebijakan, atau rahasia internal dari instansi maupun perusahaan tempat penulis bekerja.
🚀 Jualan Anda Masih Sepi?
Gunakan Paket Mantap: 120 Listing + 50 Gambar + Fitur Sticky!
PASANG IKLAN PREMIUM DISINI.png)







Social Media