BLANTERORIONv101

Realita Beban Kerja QC di Industri Manufaktur: Sebuah Catatan Pengalaman

12 Februari 2026
Realita Beban Kerja QC di Industri Manufaktur Sebuah Catatan Pengalaman

Realita Beban Kerja QC di Industri Manufaktur: Sebuah Catatan Pengalaman | Di sebuah pabrik keramik yang bising, ada seorang pria bernama Eka. Di kartu namanya mungkin tertulis "Staff QC", tapi di kenyataannya, dia adalah jantung dari operasional material.

Setiap pagi, saat yang lain baru menyesap kopi, Eka sudah harus berhadapan dengan timbangan. Tangannya cekatan mengkalibrasi alat presisi itu; dia tahu benar bahwa selisih satu gram saja bisa merusak satu batch produksi. 

Setelah itu, dia masuk ke labirin gudang pigment untuk melakukan opname. Dia menghitung, menginput, dan memastikan setiap gram warna tercatat di sistem.

Lalu datanglah truk incoming material. Di sinilah tugas terumit dimulai. Eka bukan sekadar mengecek fisik, dia harus membedah komposisinya, mengetes kualitasnya, dan memastikan material mentah itu layak masuk ke jalur produksi. 

Belum selesai di situ, urusan sampel—jiwa dari inovasi produk—juga jatuh ke pundaknya.

Di ruangan yang sama, ada empat orang lainnya.

Dua orang fokus hanya pada pembuatan glaze produksi. Satu orang lagi khusus menangani sampel glaze di lini produksi. 

Dan satu orang terakhir bertugas mengetes barang jadi yang sudah keluar dari oven.

Porsinya terlihat jelas: mereka masing-masing memegang satu bidang. Satu orang, satu tanggung jawab.

Namun, ada sebuah pemandangan yang aneh setiap sore menjelang pulang. Di meja Eka, tumpukan kertas laporan masih menggunung. Ternyata, meskipun barang jadi dites oleh rekan yang lain, pena yang harus merangkai angka menjadi laporan tetaplah pena milik Eka.

Eka adalah orang yang mengkalibrasi timbangannya, dia yang mengetes bahan bakunya, dia yang mengurus sampelnya, dia yang menginput pigmennya, dan dia pula yang harus mengetik laporan untuk pekerjaan yang dilakukan orang lain.

Suatu hari, dengan peluh yang belum kering, Eka berdiri di depan atasannya. "Pak, beban saya sudah terlalu banyak..." ucapnya jujur.

Bukannya solusi yang didapat, sang atasan justru menatapnya dengan tajam, sebuah tatapan yang mencampuradukkan intimidasi dan ketidakpedulian. 

"Sanggup gak?" tanya sang atasan dengan nada yang meninggi, seolah-olah kejujuran Eka adalah sebuah tanda kelemahan, bukan sebuah peringatan akan sistem yang pincang.

Eka terdiam. 

Dia tidak menjawab "sanggup" karena dia bukan robot. Dia juga tidak menjawab "tidak sanggup" karena dia tahu kualitas pekerjaannya adalah harga dirinya.

Dia kembali ke mejanya dengan diam dan penuh kegondokan.. Itulah saya, rasanya jenuh setiap pekerjaan di tumpukan ke punggung saya. berikut resume saya : 

https://eka.yukngiklan.com/resume/

🚀 Jualan Anda Masih Sepi?

Gunakan Paket Mantap: 120 Listing + 50 Gambar + Fitur Sticky!

PASANG IKLAN PREMIUM DISINI
Bang Eka | ekagoblog.com
seorang penikmat perjalanan yang ingin berbagi pengalaman dan inspirasi liburan ke berbagai destinasi menarik di Indonesia dan dunia. Di blog ini, saya akan membagikan cerita perjalanan, tips dan trik liburan, rekomendasi tempat wisata, kuliner khas, dan masih banyak lagi! Tujuan saya membuat blog ini adalah untuk membantu kamu merencanakan liburan impianmu dan menemukan inspirasi baru untuk bepergian. Mari kita jelajahi dunia bersama! 😊

Komentar