Ramadhan kali ini terasa beda. Siang hari tadi pikiran saya penuh dengan urusan optimasi IklanInter.net dan pantau statistik EkaGoBlog, juga rutinitas kerja. Dan malam harinya saya diajak teman untuk ikut mengaji kitab Kifayatul Atqiya. Sebuah kitab yang mengingatkan saya bahwa setinggi apa pun dunia yang kita kejar, bekal akhirat jangan sampai tertinggal. Kajian ini saya tuangkan di artikel Catatan Ramadhan: Menimba Bekal di Halaman 12-20 Kitab Kifayatul Atqiya
Malam ini kami membahas dari halaman 12 sampai 20. Karena sebelumnya saya gak tau dan gak diajak juga mengenai kajian kitab kuning ini, jadi terlewat membahas halaman sebelumnya. Kemudian setelah saya diajak dan dikasih kitabnya yaitu Kifayatul Atqiya baru dah saya menyimak ikut kajiannya.
Selesai tarawih langsung gas menuju lokasi kajian yang emang dekat dengan rumah teman saya itu pesantren nya. Suasana disana adem saya bersalaman dengan para santri lainnya yang emang asli santri kalo saya santri-santrian 😂
Saya duduk bersila sambil ditemani kopi dan minuman kemasan air mineral yang disediakan oleh para santri disana, sambil memaknai kata demi kata dalam kitab gundul tersebut, memberikan ketenangan tersendiri. Ada perasaan "adem" yang tidak bisa didapatkan dari melihat grafik Google Ads.
Pesan yang Ngena di Hati
Pesan yang di jabarkan oleh Ustadz yang menerangkan kitab ini yaitu tentang Mengamalkan Thoriqoh Auliya (para wali) ada 6 cara. Namun beliau memberikan pesan jika ingin wushul ke Alloh dan menuju Thoriqoh Auliya maka syariat Islam harus sempurna dulu sebelum melangkah lebih jauh ke Thoriqoh Auliya.
Pesan Guru : Jika ingin wushul ke Alloh dan menuju Thoriqoh Auliya maka syariat Islam harus sempurna dulu sebelum melangkah lebih jauh ke Thoriqoh Auliya.
Ada 6 Cara Jika ingin Whusul Ke Alloh, Naik Level ke Maqom Thariqoh
Teks Arab & Terjemahan
Maksudnya: "Dan bagi setiap individu daripada mereka (para kekasih Allah) mempunyai jalan-jalannya yang tersendiri, yang mana jalan itu dipilihnya maka dengan jalan tersebut dia menjadi orang yang sampai (kepada keredhaan Allah)."
Ini وَاصِـلًا yaitu wushul ke Alloh, yaitu meraih keridhoannya. Dengan 6 cara meraih wushul itu, yaitu lihat kelanjutannya di bawah ini.
Pertama: Menjadi Seorang Pengajar
(كَـجُـلُـوْسِـهِ بَيْنَ الْأَنَـامِ مُـرَبِّـيًـا * وَكَـكَـثْـرَةِ الْأَوْرَادِ كَـالصَّـوْمِ الصَّـلَا)
Maksudnya: "Seperti keberadaannya di tengah-tengah manusia sebagai seorang pendidik (Murabbi), dan seperti memperbanyakkan amalan wirid seperti puasa dan solat."
Menjadi Seorang Pengajar (pendidik) mengajarkan mengenai agama, mengenal Alloh dengan Ikhlas kepada manusia.
Kedua: Selalu Berpuasa
Selain itu bisa dengan cara selalu berpuasa tanpa niat Aneh-aneh kepengen ini itu, niat berpuasa hanya satu yaitu Karena Alloh saja. Puasa sunnah adalah puasa selain Ramadhan yang dianjurkan untuk mendulang pahala serta meraih keridhoan Alloh, seperti Puasa Daud (selang-seling), Senin-Kamis, Ayyamul Bidh (13-15 Hijriah), Syawal (6 hari), Arafah (9 Dzulhijjah), dan Asyura (10 Muharram)
Ketiga: yaitu dengan Perbanyak Sholat.
Sholat sunnah di perbanyak untuk meraih wushul ke Alloh.
Keempat: Menolong Manusia
Menurut bait dari kitab Kifayatul Atqiya yaitu dibawah ini:Maksudnya: "Dan seperti berkhidmat untuk manusia serta memikul kayu api (bekerja keras), untuk bersedekah dengan hasil usahanya itu sebagai seorang yang mencari harta (untuk jalan kebaikan)."
Setelah itu selain ketiga jalan diatas jalan selanjutnya yaitu dengan Menolong Manusia dengan Ikhlas karena Alloh, tanpa ingin di beri amplop dan lainnya.
Kelima: Mencari Nafkah Halal Untuk Keluarga
Dengan Mencari Nafkah Halal untuk Keluarga, agar anak istri tercukupi tidak kelaparan. Jangan sampai kita melupakan memberi nafkah keluarga jika ingin meraih keridhoan Alloh (wushul).
Bait di atas seolah menjadi pengingat sekaligus penyemangat bagi saya. Bahwasanya jalan menuju rida Allah itu sangat luas. Ada yang menempuh jalan melalui jalur pendidikan (Murabbi), ada yang melalui kekonsistenan ibadah wirid, namun ada juga yang melalui jalur bekerja keras mencari nafkah demi kemaslahatan orang banyak.
Di era digital ini, saya memaknai bait tersebut sebagai motivasi dalam mengelola EkaGoBlog.com dan IklanInter.net. Meski kemarin grafik sedang menanjak hingga 707 tayangan, saya belajar bahwa bekerja di depan layar pun bisa bernilai ibadah jika niatnya adalah untuk memberi manfaat dan menafkahi keluarga—layaknya mereka yang 'memikul kayu api' untuk bersedekah di zaman dulu.
Hari ini, meski kondisi fisik sedang kurang fit dan belum berjodoh hadir di Dauroh Tajwid, saya bersyukur masih diberikan kesempatan untuk 'ngaji' lewat keadaan. Bahwa sukses bukan hanya soal angka statistik, tapi soal bagaimana kita menjaga keseimbangan antara hak tubuh, kewajiban keluarga, dan pengabdian kepada Sang Khalik."
Baca ini: Jurnal Hari #3: Menjaga Keseimbangan Antara Angka dan Tenaga
Keenam: Bersedekah di Jalan Alloh.
Ketika kita kelebihan harta bisa disedekahkan agar kita gak di cap serakah, karena semua harus di bagikan kembali kepada orang lain. Seperti halnya saya ini membagikan artikel demi artikel yang saya ketahui untuk para pengunjung sekalian. Jangan sampai kita sibuk bersedekah ke orang lain namun kepada keluarga kita abai.
Penutup
Dunia digital itu cepat dan bising, tapi ngaji kitab ini bikin semuanya jadi terasa lebih lambat dan tenang. Apalagi dengan isi yang begitu dalam yaitu Ada 6 caranya agar bisa kita mendapatkan keridhoan Nya yaitu Mengajar, Puasa, Sholat, Menolong Orang Lain, Menafkahi Keluarga, dan Shodaqoh Harta. Doakan ya kawan-kawan, semoga saya bisa istiqomah ikut kajian ini sampai akhir Ramadhan nanti. Karena kabarnya bakal diadakan setiap hari dibuka untuk umum selesai tarawih sekitar jam 21.00 malam. Terima kasih sudah menyimak Catatan Ramadhan: Menimba Bekal di Halaman 12-20 Kitab Kifayatul Atqiya
Kunjungan menjadi menggila, terima kasih teman-teman yang sudah berkunjung dan share ke sosmed.
🚀 Jualan Anda Masih Sepi?
Gunakan Paket Mantap: 120 Listing + 50 Gambar + Fitur Sticky!
PASANG IKLAN PREMIUM DISINI









Social Media